Tampilkan postingan dengan label PTK IPS SMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTK IPS SMA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juli 2016

PTK IPS SMA

PTK IPS SMA   

KAMI MEMBANTU ANDA MENYUSUN PTK/PTS LENGKAP, MURAH

 
  HUBUNGI KAMI DI 081222940294
 
 Untuk Melihat Detail Harga dan Katalog Judul PTK IPS Yang Kami Sediakan Silahkan klik Disini
  


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Masa tumbuh kembang pada siswa merupakan masa penting dalam membentuk kepribadian siswa tersebut, maka dari itu pendidikan merupakan suatu bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terciptanya kepribadian yang utama, pendidikan juga merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang bertujuan untuk membentuk kedewasaan anak dan mengetahui sifat dasar yang ada pada diri anak atau manusia, sifat dasar yang ada pada manusia terdiri atas tiga komponen yang harus di bangun untuk membentuk kepribadian pada diri manusia yaitu Ruh, Jasmani dan Akal.
Tujuan pendidikan nasional sendiri secara makro bertujuan membentuk organisasi pendidikan yang bersifat otonom sehingga mampu melakukan inovasi dalam pendidikan untuk suatu lembaga yang beretika, selalu menggunakan nalar, berkemampuan komunikasi sosial yang positif dan memiliki sumber daya manusia yang sehat dan tangguh.
Agar tujuan pendidikan bisa tercapai, maka perubahan dalam sistem pendidikan harus dilakukan secara terencana dan menyeluruh, dan sistem pendidikan yang konvensional menuju sistem pendidikan yang berorientasi kompetensi. Sistem pendidikan yang hanya berbasis pada input dan proses dipandang kurang dinamis, kurang efisien, dan mengarah pada stagnasi pedagogik, sehingga mengakibatkan sistem pendidikan sulit beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan aspirasi serta kebutuhan masyarakat.
Sedangkan guru yang memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainnya akan berbeda dengan guru yang memandang anak didik sebagai mahkluk yang sama dan tidak ada perbedaan dalam segala hal. Maka adalah penting meluruskan pandangan yang keliru dalam menilai anak didik. Sebaiknya guru memandang anak didik sebagai individu dengan sebaiknya guru memandang anak didik sebagai individu dengan segala perbedaannya, sehingga mudah melakukan pendekatan dalam pengajaran.
Cara mengajar yang menggunakan teknik yang beraneka ragam disertai dengan pengertian yang mendalam dari pihak guru akan memperbesar minat siswa dan akan mempertinggi pula hasil belajarnya. Dengan mengajak, merangsang dan memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut serta menggunakan pendapat, belajar mengambil keputusan, bekerja dalam kelompok, membuat laporan dan lain-lain, akan membawa siswa pada suasana belajar yang sesungguhnya bukan pada suasana diajar saja. Berdasarkan dari semua itu, maka perlu dicari langkah-langkah penyelesaian agar siswa tidak merasa enggan dengan mata pelajaran tersebut.
Dari harapan dan kenyataan tersebut diatas penulis ingin mencoba untuk membahas dan meneliti melalui judul “Peningkatkan Prestasi Belajar Masalah Ekonomi Internasional Pada Mata Pelajaran Ekonomi Terhadap Siswa Kelas XII-IS Semester I Melalui Penerapan Metode Bervariasi”.

B. Identifikasi Masalah
Berikut masalah yang terlihat dari paparan latar belakang diatas:
1. Masa tumbuh kembang pada siswa merupakan masa penting dalam membentuk kepribadian siswa tersebut.
2. Tujuan pendidikan nasional sendiri secara makro bertujuan membentuk organisasi pendidikan yang bersifat otonom
3. Agar tujuan pendidikan bisa tercapai, maka perubahan dalam sistem pendidikan harus dilakukan secara terencana dan menyeluruh, dan sistem pendidikan yang konvensional menuju sistem pendidikan yang berorientasi kompetensi.
4. Penerapan metode yang bervaraiasi untuk meningkatkan prestasi belajar Ekonomi pada siswa kelas XII-Ilmu Sosial.

C. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah sebagaimana disebutkan diatas timbullah permasalahan yang jika dirumuskan berkisar pada pertanyaan sebagai berikut : “Adakah Peningkatan Prestasi Belajar Ekonomi Pokok Bahasan Masalah Ekonomi Internasional Melalui Penerapan Metode Bervariasi Pada Siswa Kelas XII-Ilmu Sosial Semester I”.

D. Batasan Masalah Penelitian
Penelitian ini di batasi hanya pada
1. Kelas XII-IS.1 semester I yang berjumlah 31 siswa
2. Pokok bahasan Masalah ekonomi internasional
3. Meningkatkan prestasi dan minat serta pemahaman siswa terhadap pokok bahasan yang di sajikan.
4. Karena dilaksanakan dengan biaya mandiri penelitian dilakukan selama 2 bulan

E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembahasan ini adalah :
1. Memberikan gambaran tentang penerapan metode bervariasi yang tepat untuk menjadikan siswa lebih tertarik dan aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan meningkatkan prestasi belajar.
2. Untuk mengetahui peranan pengajaran metode bervariasi terhadap pemahaman peserta didik pada pokok bahasan mata pelajaran Ekonomi.
3. Untuk mengetahui apakah pengajaran dengan penerapan metode bervariasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi pokok bahasan masalah ekonomi internasional.

F. Manfaat Penelitian
Hasil dan pelaksanaan classroom action research yang dilakukan ini akan memberikan manfaat yang berarti bagi perorangan maupun instansi di bawah ini :
1. Bagi guru : Dengan dilaksanakannya penelitian tindakan ini, guru dapat lebih terampil menggunakan pembelajaran bervariasi, guru akan terbiasa melakukan penelitian kecil yang tentu sangat bermanfaat bagi perbaikan proses belajar mengajar.
2. Bagi siswa : Hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi siswa yang bermasalah di kelas ini agar berusaha meningkatkan aktivitas belajaranya sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya.
3. Bagi sekolah : Hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang banyak dalam rangka memperbaiki pembelajaran didalam kelas, peningkatan kualitas sekolah dan bermanfaat bagi sekolah-sekolah lain.
4. Bagi kurikulum : Hasil penelitian ini akan memberikan masukan bahwa dengan memberikan pembelajaran bervariasi dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam bertanya, sehingga dapat mengembangkan kurikulum dalam menggunakan metode pengajaran.

PTK IPS SMA

PTK IPS SMA    

KAMI MEMBANTU ANDA MENYUSUN PTK/PTS LENGKAP, MURAH

 
  HUBUNGI KAMI DI 081222940294
 
 Untuk Melihat Detail Harga dan Katalog Judul PTK IPS Yang Kami Sediakan Silahkan klik Disini
 

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu interaksi manusia antara pendidik atau guru dengan anak didik atau siswa yang dapat menunjang pengembangan manusia seutuhnya yang berorientasi pada nilai-nilai dan pelestarian serta pengembangan kebudayaan yang berhubungan dengan usaha-usaha pengembangan manusia tersebut. Pendidikan dipandang sebagai salah satu faktor utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi, yaitu melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja terdidik. Disamping itu pendidikan dipandang mempunyai peranan penting dalam menjamin perkembangan dan kelangsungan bangsa. Kualitas pendidikan dapat diketahui dari dua hal, yaitu : kualitas proses dan produk (Sudjana, 2004:35). Pendidikan dikatakan berkualitas apabila terjadi penyelenggaraan pembelajaran yang efektif dan efisien dengan melibatkan semua komponen-komponen pendidikan, seperti mencakup tujuan pengajaran, guru dan peserta didik, bahan pelajaran, strategi atau  metode belajar mengajar, alat dan sumber pelajaran serta evaluasi (Sugito, 1994:3). Komponen- komponen tersebut dilibatkan secara langsung tanpa menonjolkan salah satu komponen saja, akan tetapi komponen tersebut diberdayakan secara bersama-sama.
Namun,  untuk menciptakan pendidikan  yang efektif sangat sulit. Salah satu masalah yang mendasar dalam dunia pendidikan adalah bagaimana usaha untuk meningkatkan proses belajar mengajar sehingga memperoleh hasil yang efektif dan efisien, tidak terkecuali pada pelajaran sejarah. Ada yang menyatakan bahwa memberikan pelajaran sejarah merupakan sesuatu yang tidak masuk akal atau tidak mungkin sama sekali, karena pelajaran sejarah bukan sebagai dasar ilmu pengetahuan, bahkan sangat mengaburkan konsep dan prinsip sejarah. Padahal bangsa manapun di dunia, tidak pernah ada suatu bangsa yang melupakan sejarah bangsanya, asal-usul dan perjuangan mereka untuk hidup dan merdeka, karena sejarah merupakan satu bagian dari kelompok ilmu yang berdiri sendiri. Tujuan yang luhur dari sejarah adalah menanamkan semangat kebangsaan, cinta tanah air bangsa dan negara, serta pengajaran sejarah merupakan sumber inspirasi terhadap hubungan antarbangsa dan negara, sehingga anak memahami bahwa ia merupakan bagian dari masyarakat negara di dunia.(Kasmadi,1996:13).
 Dalam proses pembelajaran sejarah di kelas XI IPS 1 misalnya, diketahui  minat siswa dalam belajar sejarah justru sangat rendah dan lebih banyak membuat siswa menjadi bosan. Hal ini terlihat dari aktivitas siswa selama KBM, siswa banyak yang bercerita sendiri dengan temanya dan ada siswa yang mengerjakan tugas mata pelajaran lain sewktu gurunya menerangkan. Penyediaan buku-buku pelajaran sejarah yang selama ini ternyata kurang efektif, karena lebih bersifat memberikan materi instan tentang fakta sejarah kepada para siswa daripada memberikan daya kreatif siswa untuk memahami sebuah peristiwa sejarah. Penulis buku tidak memberikan ruang berfikir kepada siswa tentang bagaimana sebuah fakta sejarah muncul, dan narasi sejarah disajikan. Akibatnya siswa tidak dapat terlarut dalam sebuah narasi sejarah, sehingga siswa bosan membaca teks sejarah di sekolah. Siswa juga jarang untuk diajak berdialog tentang bagaimana sebuah karya sejarah dalam periode tertentu muncul. Untuk itu, pengajaran sejarah yang hendak mewujudkan inti dan tujuanya maka perlu di buat menarik. Pengembangan daya tarik pelajaran sejarah terutama pada pendidik sejarah, sebab di tangan pendidik sejarah akan tampak jiwa sejarah itu. Apakah pendidikan sejarah akan membosankan, menjenuhkan atau tidak menarik, pelajaran sejarah bersifat menghafalkan, juga sangat di tentukan oleh pendidik sejarah (Latief,2006:100).
Dalam menerapkan model pembelajaran seharusnya melihat dari karakter siswa yang di ajar dan tidak hanya satu metode pembelajaran yang di pakai, bisa di ganti sesuai materi yang akan di ajarkan, hal ini agar siswa yang di ajar tidak bosan dengan model pembelajaran yang di terapkan oleh guru. Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan harus terus-menerus dilakukan pembaharuan baik secara konvensional maupun inovatif. Hal ini lebih terfokus lagi setelah diamanatkan bahwa tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Selama KBM guru perlu memberdayakan seluruh potensi dirinya sehingga sebagian besar siswa mampu mencapai kompetensi individual yang diperlukan untuk mengikuti pelajaran lanjutan. Agar siswa mampu belajar sampai pada tingkat pemahaman. Siswa mampu mempelajari fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan gagasan inovatif lainnya pada tingkat ingatan, mereka belum mampu menerapkannya secara efektif dalam pemecahan.
Di era sekarang ini diperlukan pengetahuan dan keanekaragaman keterampilan agar siswa mampu memberdayakan dirinya untuk menemukan, menafsirkan, menilai dan menggunakan informasi, serta melahirkan gagasan kreatif untuk menentukan sikap dalam pengambilan keputusan. Dari banyaknya model pembelajaran yang bisa di katakan menarik adalah model pembelajaran bentuk sosiodrama atau role playing, karena sejarah merupakan peristiwa masa lalu yang bisa di simulasikan atau di gambarkan. Hal ini juga di dukung dengan kebanyakan para siswa kelas XI IPS 1 yang berkeinginan menunjukan kemampuan dan bakatnya dalam bermain peran. Metode sosiodrama ialah cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan memainkan peran tertentu yang terdapat dalam kehidupan masyarakat (Djamarah, 2005:238).
Beberapa sarjana yaitu Gilliom, Joyce, dan Well (Supriatna et al. 2005:141) memasukkan sosiodrama sebagai bagian dari bermain peran. Namun antara sosiodrama dan bermain peran terdapat perbedaan, perbedaan yang paling mencolok ialah dimana bermain peran lebih luas ruang lingkupnya sedangkan sosiodrama hanya membatasi pada permasalahan yang berkenaan dengan aspek sosial. Berdasarkan permasalahan diatas, maka penulis tertarik untuk memberikan solusi bagaiamana upaya meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran sejarah. Untuk itu penulis menggambil judul “UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS XI IPS 1 TERHADAP PEMBELAJARAN SEJARAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE SOSIODRAMA DI SMA N 1 BELIK”.

PTK IPS SMA

PTK IPS SMA   

ANDA PNS YANG MAU NAIK PANGKAT DAN MEMBUTUHKAN PTK? KAMI SIAP MEMBANTU ANDA MENYUSUN PTK/PTS LENGKAP, MURAH DAN TERPERCAYA



  HUBUNGI KAMI DI 081222940294   



BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Paradigma pembelajarn IPS selama ini masih menekankan “proses pengajaran oleh guru “( teacher teching) bukannya “proses pembelajaran oleh murid” (student learning) .Guru mengajar dengan metode yang telah ditentukan , terlepas cocok atau tidaknya metode tersebut dengan materi yang harus disampaikan di depan peserta didik.Hal ini menyebabkan proses belajar menjadi statis dan beku serta menimbulkan efek destruktif pada keingintahuan, kepercayaan diri, kreatifitas , kebebasan berfikir dan self-respeck di kalangan peserta didik. Hal ini menyebabkan pembelajaran IPS terkesan membosankan serta malas untuk mempelajarinya,terlebih di SMK kelompok Teknologi dan Industri.
Kondisi diatas tentu bertentangan dengan PP No. 19 tahun 2005 pasal 19 ayat 1 tentang standart proses yakni ’ Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik
Sehubungan dengan hal diatas, perlu dicari strategi baru dalam pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, dalam suasana yang interaktif,inspiratif , menyenangkan dan menantang . Diantaranya adalah berpusat pada siswa (Focus on Learners), memberikan pembelajaran dan pengalaman belajar yang relevan dan kontekstual dalam kehidupan nyata (provide relevant and contextualized subject matter) dan mengembangkan mental yang kaya dan kuat pada siswa.
Dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa, guru dituntut untuk merancang kegiatan pembelajaran yang mampu mengembangkan kompetensi, baik dalam ranah kognitif, ranah afektif maupun psikomotorik siswa. Strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan peciptaan suasana yang menyenangkan sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS. Dalam hal ini penulis memilih model Peer Group Learning .
Pembelajaran dalam peer group learning , dibuat dalam suatu kondisi yang menyenangkan dalam kelompok belajarnya, sehingga siswa akan terus termotivasi untuk berinteraksi dari awal sampai akhir kegiatan belajar mengajar (KBM)..
Berdasarkan uraian diatas maka Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, dirancang untuk mengkaji penerapan pembelajaran model “Peer Group Learning” dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dalam mata pelajaran IPS di SMK Negeri 2 Jember.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Apakah pembelajaran model Peer Group Learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswadalam Mata Pelajaran IPS?
2. Bagaimana penerapan Peer Group Learning di kelas dalam mata pelajaran IPS?
3. Sejauh manakah pendekatan Peer Group Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa?

PTK IPS SMA

PTK IPS SMA    

ANDA PNS YANG MAU NAIK PANGKAT DAN MEMBUTUHKAN PTK? KAMI SIAP MEMBANTU ANDA MENYUSUN PTK/PTS LENGKAP, MURAH DAN TERPERCAYA



  HUBUNGI KAMI DI 081222940294    


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Berdasarkan pada daftar pencapaian daya serap tiga tahun pelajaran terakhir pada siswa Kelas X-2 SMAN 101 Jakarta di bawah ini menunjukkan bahwa hasil belajar  Sejarah yang diperoleh di siswa masih rendah.
            Berdasarkan hasil belajar sejarah yang diperoleh siswa tersebut dapat disebabkan berbagai macam faktor yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran, diantaranya faktor guru, siswa, metode mengajar, sarana dan prasarana pendidikan maupun materi pelajaran. Dari beberapa faktor tersebut, faktor yang dianggap cukup berperan penting adalah materi pelajaran, termasuk di dalamnya adalah banyak sedikitnya materi pelajaran, tingkat kesulitan materi pelajaran, dan teknik atau pendekatan yang digunakan dalam penyajian materi.
            Berdasarkan pula dengan pengalaman penulis selama mengajar di SMA Negeri 101 Jakarta sebagian besar siswa kurang aktif pada saat proses pembelajaran berlangsung. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam materi pelajaran yang telah diberikan masih rendah. Hal ini disebabkan oleh model pembelajaran yang dipakai tidak cocok dengan materi pelajaran yang disajikan dan perkembangan intelektual anak.
            Salah satu upaya mengatasi kekurangmampuan siswa memahami materi pelajaran maka penulis merancang suatu penelitian dengan menitik beratkan perhatian pada upaya peningkatan hasil belajar sejarah siswa melalui pembelajaran dengan pendekatan induktif.

PTK IPS SMA

PTK IPS SMA   

KAMI MEMBANTU ANDA MENYUSUN PTK/PTS LENGKAP, MURAH

 
  HUBUNGI KAMI DI 081222940294
 
 Untuk Melihat Detail Harga dan Katalog Judul PTK IPS Yang Kami Sediakan Silahkan klik Disini
  
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
            Peranan pendidikan di Indonesia menjadi prioritas utama, secara jelas di dalam UUD 1945 pada pasal 31 ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah mengusahakan dan penyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang sejarah, sejalan dengan hal tersebut GBHN 1988 dinyatakan peranan pendidikan nasional yang kaitannya dengan sejarah yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras. Selain itu yang perlu digaris bawahi adalah bahwa pendidikan nasional harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta tanah air (nasionalisme) dan mempertebal semangat kebangsaan (patriotisme).
Dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional setiap 10 tahun sekali selalu dilakukan penyempurnaan atau revisi kurikulum seperti tahun 1975, 1984, 1994, suplemen 1999, 2004 (berbasis kompetensi) dan saat ini menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP 2006) dimana didalamnya terdapat perubahan materi dalam pembelajaran sejarah
Suatu pernyataan yang sangat fenomenal dari Presiden Sukarno bahwa ”bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai sejarah perjuangan bangsanya”. Ungkapan yang begitu bijaksana apabila dikaji secara mendalam mengandung pengertian Verstehen dan Erleben ( Kartodirjo, 1993) yaitu menyelami dalam membuka tabir kebenaran masa silam. Jastifikasi sejarah dalam perjalanan suatu bangsa dengan sendirinya akan membentuk karakter dan kepribadian yang sesuai dengan jiwa jaman tersebut.

Senin, 25 Juli 2016

PTK IPS SMA

PTK IPS SMA   


KAMI MEMBANTU ANDA MENYUSUN PTK/PTS LENGKAP, MURAH

 
  HUBUNGI KAMI DI 081222940294
 
 Untuk Melihat Detail Harga dan Katalog Judul PTK IPS Yang Kami Sediakan Silahkan klik Disini
 
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
            Peranan pendidikan di Indonesia menjadi prioritas utama, secara jelas di dalam UUD 1945 pada pasal 31 ayat 2 menyebutkan bahwa pemerintah mengusahakan dan penyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang sejarah, sejalan dengan hal tersebut GBHN 1988 dinyatakan peranan pendidikan nasional yang kaitannya dengan sejarah yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras. Selain itu yang perlu digaris bawahi adalah bahwa pendidikan nasional harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta tanah air (nasionalisme) dan mempertebal semangat kebangsaan (patriotisme).
Dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional setiap 10 tahun sekali selalu dilakukan penyempurnaan atau revisi kurikulum seperti tahun 1975, 1984, 1994, suplemen 1999, 2004 (berbasis kompetensi) dan saat ini menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP 2006) dimana didalamnya terdapat perubahan materi dalam pembelajaran sejarah
Suatu pernyataan yang sangat fenomenal dari Presiden Sukarno bahwa ”bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai sejarah perjuangan bangsanya”. Ungkapan yang begitu bijaksana apabila dikaji secara mendalam mengandung pengertian Verstehen dan Erleben ( Kartodirjo, 1993) yaitu menyelami dalam membuka tabir kebenaran masa silam. Jastifikasi sejarah dalam perjalanan suatu bangsa dengan sendirinya akan membentuk karakter dan kepribadian yang sesuai dengan jiwa jaman tersebut.

1

Barangkali sejak kita berada di bangku SD pelajaran sejarah adalah mata pelajaran yang membosankan, pada masa itu kita akan bertanya, mengapa kita belajar sejarah? Mengapa kita harus mempelajari masa lalu? Bahkan sampai pernyataan ekstrim yaitu apa gunanya kita belajar sejarah? masa lampau yang sudah lewat tidak perlu diteliti atau dipelajari.
Perlu diuraikan kendala-kendala umum dalam pembelajaran sejarah yaitu; (1) doktrin patent pembelajaran sejarah sejak kita di bangku SD sampai dengan SMA tidak terlepas dari 4 W + 1 H ( why, when, where, who dan how) (2) materi masa lampau yang sangat luas meliputi seluruh aspek kehidupan penting manusia di dunia (3) metode pembelajaran cenderung didominasi oleh ceramah (4) ketidakseimbangan jumlah jam tatap muka dengan materi yang ada (5) kurikulum yang selalu berubah-ubah (6) siswa kurang berminat membaca cerita sejarah (7) tidak memadainya sumber-sumber tertulis maupun tidak tertulis (8) sejarah adalah ilmu sosial selalu dipandang sebelah mata sebagai mata pelajaran kelas dua setelah eksakta
Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran sejarah dalam hal ini siswa SMA PL St. Yohanes salah satunya dilatarbelakangi oleh faktor kurang kreatifnya guru, juga tidak tersedianya sarana dan prasarana pendukung. Dari data evaluasi hasil ulangan semester dan ujian blok semester I pada mata pelajaran sejarah standar ketuntasan adalah 70 kelas X, kurang lebih 27.5% tidak tuntas ( Σ : 220 siswa ), kelas XI  30.5 % tidak tuntas ( Σ : 230 siswa ) kelas XII 36.2% tuntas ( Σ : 223 siswa ) ini berdampak pada kontinuitas kualitas belajar siswa di SMA PL St. Yohanes
Kurikulum terbaru 2006 memberikan strategi  kepada pengajar bagaimana supaya siswa lebih giat memacu dirinya lebih kreatif dan inovatif, begitu pula pendekatan yang dilakukan dalam  strategi belajar mengajar sehingga  hasil belajar siswa ranah kognitif, dan afektif dapat sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.
Dalam pengajaran sejarah siswa harus dapat membangun pemikiran yang kritis analisis dari interpretasi kebenaran fakta dan data secara benar baik pada ranah kognitif, maupun afektif ( Hariyono, 1998)
2
 Pada masa berlakunya kurikulum tahun 1984-an  yang pada waktu itu menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nugroho Notosusanto pernah dicoba mata pelajaran baru cabang sejarah yang lebih menekankan aspek kognitif dan afektif yaitu PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) namun dihapus pada suplemen kurikulum 1994. Sebagian orang mengatakan pembelajaran sejarah cenderung hanya ingatan, dan hafalan,  guru selalu mengidolakan metode ceramah sebab bercerita lebih tepat untuk kajian masa lalu.  Pada prinsipnya guru-guru sejarah kesulitan menentukan formula (teknik, metode, dan pendekatan) yang sesuai untuk materi tertentu.
Secara umum dimanapun pembelajaran sejarah hanya bersumber pada buku paket untuk dibaca atau LKS untuk dikerjakan secara naratif tanpa diberikan bukti konkrit visual berupa gambar, foto, dan peta. Sehingga pemahaman sejarah hanya sebatas ingatan tanpa bisa menyelami peristiwanya; sebagai contoh pada tahun 1944 Jepang melakukan praktek romusya terhadap rakyat Indonesia, siswa hanya memahami bahwa romusya adalah kerja paksa tetapi tidak mengetahui bentuk  kerja paksa yang bagaimana?, seperti apa paksaan itu? Pemahaman ini menjadi bias jika tidak ada visualisasi, siswa hanya menjadi imajiner-founding (Notosusanto, 1985).
Keadaan di atas akan membawa dampak yang tidak menguntungkan dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran sejarah dan semestinya dicarikan pemecahan alternatif yang paling efektif dan efisien atau solusi sebagai pelaksanaan perbaikan metode atau pendekatan pembelajaran beserta teknik dan bentuk yang sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa.
Dalam rangka peningkatan hasil belajar sejarah dengan pendekatan pembelajaran efektif, efisien dan terpadu disesuaikan dengan proses dan kemampuan siswa diantaranya dengan mengadopsi model Picture to Picture dan Examples on Examples namun peneliti mencoba untuk menampilkan model pembelajaran dengan gaya Pictures and Student Active (PaSA) On Board Stories and Pictures Stories.
3
 Dalam pendekatan pembelajaran CTL metode Pictures and Student Active diharapkan siswa dapat menkonstruk secara kognitif, dan afektif dengan daya kreasi serta menganalisis secara kritis terhadap visualisasi. Konsep utama dari Picture and Student Active adalah Know How to Know (mengetahui bagaimana harus mengetahui) Dengan demikian muncul suatu pernyataan bahwa “Siswa akan lebih mudah memahami gambar peristiwa sejarah daripada membaca, tetapi tanpa membaca akan sulit untuk mendeskripsikan gambar”  Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut

PTK IPS SMA

PTK IPS SMA   

ANDA PNS YANG MAU NAIK PANGKAT DAN MEMBUTUHKAN PTK? KAMI SIAP MEMBANTU ANDA MENYUSUN PTK/PTS LENGKAP, MURAH DAN TERPERCAYA



  HUBUNGI KAMI DI 081222940294   



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Masa tumbuh kembang pada siswa merupakan masa penting dalam membentuk kepribadian siswa tersebut, maka dari itu pendidikan merupakan suatu bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terciptanya kepribadian yang utama, pendidikan juga merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang bertujuan untuk membentuk kedewasaan anak dan mengetahui sifat dasar yang ada pada diri anak atau manusia, sifat dasar yang ada pada manusia terdiri atas tiga komponen yang harus di bangun untuk membentuk kepribadian pada diri manusia yaitu Ruh, Jasmani dan Akal.
Tujuan pendidikan nasional sendiri secara makro bertujuan membentuk organisasi pendidikan yang bersifat otonom sehingga mampu melakukan inovasi dalam pendidikan untuk suatu lembaga yang beretika, selalu menggunakan nalar, berkemampuan komunikasi sosial yang positif dan memiliki sumber daya manusia yang sehat dan tangguh.
Agar tujuan pendidikan bisa tercapai, maka perubahan dalam sistem pendidikan harus dilakukan secara terencana dan menyeluruh, dan sistem pendidikan yang konvensional menuju sistem pendidikan yang berorientasi kompetensi. Sistem pendidikan yang hanya berbasis pada input dan proses dipandang kurang dinamis, kurang efisien, dan mengarah pada stagnasi pedagogik, sehingga mengakibatkan sistem pendidikan sulit beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan aspirasi serta kebutuhan masyarakat.
Sedangkan guru yang memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainnya akan berbeda dengan guru yang memandang anak didik sebagai mahkluk yang sama dan tidak ada perbedaan dalam segala hal. Maka adalah penting meluruskan pandangan yang keliru dalam menilai anak didik. Sebaiknya guru memandang anak didik sebagai individu dengan sebaiknya guru memandang anak didik sebagai individu dengan segala perbedaannya, sehingga mudah melakukan pendekatan dalam pengajaran.
Cara mengajar yang menggunakan teknik yang beraneka ragam disertai dengan pengertian yang mendalam dari pihak guru akan memperbesar minat siswa dan akan mempertinggi pula hasil belajarnya. Dengan mengajak, merangsang dan memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut serta menggunakan pendapat, belajar mengambil keputusan, bekerja dalam kelompok, membuat laporan dan lain-lain, akan membawa siswa pada suasana belajar yang sesungguhnya bukan pada suasana diajar saja. Berdasarkan dari semua itu, maka perlu dicari langkah-langkah penyelesaian agar siswa tidak merasa enggan dengan mata pelajaran tersebut.
Dari harapan dan kenyataan tersebut diatas penulis ingin mencoba untuk membahas dan meneliti melalui judul “Peningkatkan Prestasi Belajar Masalah Ekonomi Internasional Pada Mata Pelajaran Ekonomi Terhadap Siswa Kelas XII-IS Semester I Melalui Penerapan Metode Bervariasi”

PTK IPS SMA

PTK IPS SMA   

ANDA PNS YANG MAU NAIK PANGKAT DAN MEMBUTUHKAN PTK? KAMI SIAP MEMBANTU ANDA MENYUSUN PTK/PTS LENGKAP, MURAH DAN TERPERCAYA



  HUBUNGI KAMI DI 081222940294   


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah PTK
Berdasarkan pengamatan dan penilaian secara langsung, bahwa pendidikan IPS merupakan salah satu mata pelajaran di Sekolah SMK yang bagi sebagian siswa terasa membosankan, kurang menarik dan cenderung monoton. Pendidikan IPS merupakan mata pelajaran yang sangat tegas dan berupa hapalan-hapalan serta ruang lingkup yang dipelajarannya adalah manusia sebagai anggota masyarakat, gejala dan masalah sosial serta peristiwa tentang kehidupan manusia di masyarakat. Oleh karena itu siswa dituntut untuk lebih memiliki minat yang penuh dan sungguh - sungguh untuk mempelajarinya.
Dalam pelaksanaan evaluasi, pengajaran IPS bagi siswa SMKN I Kadipten Kabupaten Majalengka Propinsi Jawa Barat Tahun Pelajaran  2012/2013 yang rajin dan berminat untuk mempelajarinya, mereka akan lebih mudah dalam mengerjakan dan memecahkan soal yang dihadapinya dan mereka akan menggemari pelajaran IPS karena IPS bukan merupakan pelajaran eksak atau ilmu pasti yang memerlukan satu jawaban yang pasti. (Sumaatmadja, N. Metodologi Pengajaran IPS halaman 19)
Kenyataan yang ada pada masa sekarang ini, ternyata kemajuan tekhnologi melahirkan dua sisi yaitu sisi positif dan sisi negatif. Dengan banyaknya media visual yang menayangkan berbagai macam sajian berupa tontonan maupun permainan - permainan sehingga minat baca siswa menjadi berkurang bahkan sangat kurang. Mereka lebih suka menghabiskan waktunya untuk menonton televisi dan video game. Selain itu guru - guru masih belum dapat memanfaatkan secara maksimal berbagai metode yang tepat untuk mendapatkan hasil yang memuaskan sehingga dampaknya hasil pembelajaran Pendidikan IPS di  sekolah Menengah Kejuruan  sangat rendah. Rendahnya hasil belajar siswa pada akhir-akhir ini bisa juga diakibatkan oleh kondisi dan perkembangan mental murid, seperti yang dikemukakan oleh Sumaatmaja. N halaman 11.
"Kemampuan mental anak didik sesuai dengan tingkat umur dan pengalamannya berkembang mulai dari tingkat umur atau tingkat pendidikan yang rendah menuju kearah kematangan. Oleh karena itu bobot luas pendalaman materi IPS yang diajarkan harus disesuaikan dengan kemampuan murid."
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Dengan adanya pendidikan diharapkan peserta didik akan memiliki kemampuan dan kepribadian yang berkembang. (Arbi, Z. S halaman 19)
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU RI No 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS).
Pendidikan Dasar bertujuan untuk memberikan kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannva sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, dan sebagai umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan yang berikutnya.
Pendidikan  Menengah Kejuruan harus selalu menyelaraskan dan mengantisipasi perubahan agar materi dan pengalaman belajar dalam proses belajar mengajar -yang diberikan di Sekolah berguna untuk bekal kehidupannya.Fungsi sekolah harus membantu mewujudkan kemandirian bagi peserta didik dalam arti melek huruf, melek teknologi dan melek pikiran (Semiawan. C 1992: 12).
Dalam Garis - Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) IPS, bahwa tujuan umum mata pelajaran IPS pada jenjang pendidikan menengah yaitu :
1.    Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMK bertujuan agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari hari.
2.    Pengajaran IPS yang bertujuan agar siswa mampu mengembangkan pemahaman tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini sehingga siswa memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dan cinta tanah air.
Adapun sasaran pokok pembelajaran pendidikan 1PS di  SMK adalah sebagai berikut :
1.         Mengenalkan kepada siswa tentang hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya
2.         Memberikan pengetahuan agar siswa memahami peristiwa-peristiwa serta perubahan yang terjadi disekitarnya.
3.         Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengenal kebutuhan - kebutuhannya serta menyadari bahwa manusia lain pun memiliki kebutuhan.
4.         Menghargai kebudayaan masyarakat sekitarnya, bangsa juga budaya bangsa lain.
5.         Memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi yang bertalian dengan dirinya sendiri maupun dengan bangsa lain di dunia.
6.         Memahami bahwa antar manusia yang satu dengan lainnya saling membutuhkan serta dapat menghormati harkat dan nilai manusia.
7.         Memahami dan bertanggung jawab dalam pemeliharaan pemantapan dan pengelolaan sumber daya manusia dan sumber daya alam.
8.         Memupuk rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan dan hasilnya serta menghargai setiap jenis pekerjaan maupun hasil pekerjaan yang dilakukan orang lain.
9.         Memahami dan menghargai IPS bangsanya serta hak-haknya sebagai manusia yang hidup di suatu negara yang merdeka. (Sumaatmadja, N halaman 13)
Hasil observasi tentang proses pembelaiaran terdapat beberapa persoalan yang berkembang terutama mengenai permasalahan yang dialami guru dan siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Permasalahan bagi guru diantaranya kesulitan memilih metode yang tepat dan benar, kesulitan merubah minat siswa terhadap pelajaran IPS dan pembelajaran IPS hasilnya masih memperoleh rata - rata rendah. Adapun pemasalahan bagi siswa diantaranya adalah siswa merasa tidak senang terhadap mata pelajaran IPS, siswa kesulitan dalam menangkap  pelajaran IPS dan siswa kurang paham serta mendapat nilai yang kurang, dalam mata pelajaran IPS.
Untuk memecahkan persoalan di atas peneliti mencoba menggunakan metoda To  Learn  of Simulation   dalam pembelajaran pendidikan IPS di  kelas X AP 2 SMKN Kadipten Kabupaten  Majalengka Propinsi Jawa Barat Tahun Pelajaran 2012/2013. Dengan menggunakan metoda To  Learn  of Simulation diharapkan dapat mendorong partisipasi peserta didik, mempertinggi keterampilan - keterampilan, membuat keputusan, memanfaatkan sumber-sumber yang berhubungan dengan keputusan - keputusan yang hendak dibuat, membantu mengembangkan sikap siswa, mengembangkan persuasi dan komunikasi serta memperkenalkan kepada siswa tentang peranan kepemimpinan

Minggu, 24 Juli 2016

PTK IPS SMA

PTK IPS SMA  

KAMI MEMBANTU ANDA MENYUSUN PTK/PTS LENGKAP, MURAH


 


  HUBUNGI KAMI DI 081222940294

 

 Untuk Melihat Detail Harga dan Katalog Judul PTK IPS Yang Kami Sediakan Silahkan klik Disini
  


BAB I
PENDAHULUAN


A.   Latar Belakang Masalah
Fungsi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Dasar adalah untuk mengembangkan sikap rasional tentang gejala-gejala sosial serta wawasan tentang perkembangan masyarakat Indonesia dan mas dunia di masa lampau dan masa kini. Sedangkan tujuan mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar adalah untuk mengambil akan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari serta mampu mengembangkan pemahaman tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini, sehingga siswa memilki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dan cinta kepada tanah air (GBPP Kurikulum Pendidikan Dasar, 1999).
Pencapaian fungsi dan tujuan mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar adalah menjadi penting untuk dapat dilaksankan oleh guru dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran fungsi dan tujuan tadi sebagaimana dijelaskan dalam GBPP IPS Sekolah Dasar Tahun 1999 sebagai berikut :
Bahan kajian IPS SD diorganisasikan mulai dari bagian pelajaran yang dekat dan sederhana di sekitar anak ke yang lebih luas dan kompleks.... Tujuan merupakan tolak ukur pengalaman belajar yang harus dicapai oleh siswa setelah mempelajari satu atau beberapa pokok bahasan....... Dalam pelaksanaan kegiatan Belajar mengajar (KBM) guru baik secara fisik, mental (pemikiran dan perasaan), dansosial serta sesuai dengan tingkat perkembangan Sekolah Dasar (h. 122-123)

Akan tetapi karena bahan belajar IPS yang cakupannya beragam dan luas serta tuntutan kurikulum yang sarat dengan muatan yang harus disampaikan kepada siswa dengan lokasi waktu yang terbatas, guru mengalami kesulitan dalam menyajikan bahan ajar IPS dengan baik, menarik, dan menantang minat belajar siswa, pada akhirnya pembelajaran IPS yang dilaksanakan di Kelas VI SD Negeri Sukamukti I adalah dengan melakukan pembelajaran untuk dapat mengejar target.
Tuntutan kurikulum dengan mengandalkan bahan belajar dari buku sumber IPS Kelas VI yang tersedia. Metode mengajar yang selama ini dirasakan kurang cocok untuk menyampaikan materi ceramah sehingga upaya untuk dapat melibatkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar IPS masih kurang.
Perhatian orang tua siswa terhadap sekolah khususnya orang tua siswa Kelas VI SD Negeri Sukamukti I dirasakan kurang. Akibat kurang perhatian orang tua siswa ini ditunjukan dengan banyaknya siswa yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah" (PR) dari mata pelajaran yang ada, lebih-lebih terhadap mata pelajaran IPS yang memang "budaya belajar" siswa terhadap mata pelajaran ini sangat rendah. "Sering terdengar pengajaran IPS merupakan pelajaran yang kurang populer dl kalangan anak-anak" (Djoko Suradisastra, 1993:63). Kekurang populeran pelajaran IPS di kalangan siswa antara lain disebabkan (1) hampir sebagian besar orang tua lebih mementingkan baca, tulis dan hitung saja sementara mata pelajaran IPS dianggap mata pelajaran kelas dua sehingga mau tidak mau sikap orang tua seperti ini akan mempengaruhi pelajaran minat siswa terhadap mata pelajaran ini., (2) sifat dari mata pelajaran baca, tulis dan hitung lebih bersifat tegas dan pasti sementara mata pelajaran IPS tidaklah demikian, (3) banyak bahan pelajarannya telah diketahui oleh para siswa di luar buku pelajaran.
Sementara itu alat tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa terhadap mata-mata pelajaran yang diajarkan sering kali hanya mengukur kemampuan pengetahuan siswa. Demikian pula mata pelajarm IPS alat tes yang digunakan hanya melulu menekankan kepada kemampuan siswa sehingga pelaksanaan kegiatan belajar mengajar IPS di Kelas VI SD Negeri Genteng I yang dilakukan oleh guru berusaha untuk membekali siswa-siswanya dengan bekal pengetahuan yang berupaya untuk bisa menjawab soal tes.
Dengan permasalahan yang digambarkan di atas, salah satu metode belajar mengajar yang dianggap dapat melibatkan siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar IPS di antaranya adalah metode belajar secara berkelompok. Sebab dengan melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar IPS akan dirasakan berkesan dan bermakna sekaligus dapat mendorong siswa belajar lebih lanjut, melalui belajar secara berkelompok siswa dapat belajar untuk lebih kreatif dalam memecahkan masalah secara bergotong royong bahu membahu dalam mencapai tujuan.
Kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan metode belajar secara berkelompok dipandang sebagai pengalaman belajar yang mengarahkan siswa kepada prestasi siswa yang tinggi. Lingkungan belajar dengan interaksi yang multi proses akan sangat potensial untuk dapat membimbing siswa dalam pengembangannya. Namun demikian, dalam situasi pembelajaran bentuk apapun, pengembangan kemampuan siswa akan bisa terkembangkan apabila guru meningkatkan kemampuannya dalam mengelola kelas. Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru harus menjadi mediator dan fasilitator yang baik sehingga proses pembelajaran yang sudah dirancang akan terlaksana dengan baik. Oleh karena itu, dalam belajar secara berkelompok siswa diarahkan agar mengembangkan sika-sikap untuk pencapaian akademik yang tinggi, pemahaman yang mendalam terhadap materi yang dipelajari, bahwa belajar itu menyenangkan. pengembangan keterampilan kepemimpinan, mendorong sikap-sikap yang positif. mendorong kepercayaan diri, pengembangan rasa memiliki, dan mendorong saling menghargai satu sama lain.
Dalam Penelitian tindakan kelas ini akan dicoba diterapkan metoda belajar secara berkelompok dalam kegiatan belajar mengajar IPS di Kelas VI SD Negeri Genteng I melalui tindakan-tindakan pembelajaran yang terlebih dahulu dirancang sebelum melakukan tindakan tersebut.


PTK IPS SMP

PTK IPS SMA 

KAMI MEMBANTU ANDA MENYUSUN PTK/PTS LENGKAP, MURAH

 
  HUBUNGI KAMI DI 081222940294
 
 Untuk Melihat Detail Harga dan Katalog Judul PTK IPS Yang Kami Sediakan Silahkan klik Disini
 
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan dunia pendidikan membawa suatu kenyataan bahwa
pendidikan hampir disemua negara didunia mendapatkan tempat yang strategis
dalam pembangunan. Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan
perkembangan dan peningkatan kemampuan siswa, situasi dan kondisi lingkungan
sekitar dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, pengaruh informasi,
budaya serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kondisi siswa SMA -----------------------------------------,, sebelum diadakan
penelitian menunjukkan hasil yang kurang memuaskan, hasil ulangan harian masih
dibawah KKM (KKM yang ditentukan untuk mata pelajaran Ekonomi 65) seperti
data nilai ulangan harian yang telah dilakukan sebagai berikut:
1. Ulangan KD Memahami Ilmu dan Hukum Ekonomi, jpeserta ulangan 40 siswa,
Nilai rata-rata 69.22, Nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 60.
2. Ulangan KD: Menerapkan motif dan prinsip-prinsip ekonomi dalam kegiatan
bisnis, peserta ulangan 40 siswa, Nilai rata-rata 60.00, Nilai tertinggi 90, dan
nilai terendah 60.
Selama ini guru (peneliti) melaksanakan pembelajaran secara konvensional
sehingga siswa merasa jenuh dan masih diterapkannya pendekatan ketrampilan
proses dengan pembelajaran teoritis membuat pembelajaran menjadi tidak efektif
dan para siswa merasa tidak senang berada di kelas. Beberapa upaya pemecahan
masalah telah dilakukan pemerintah (Depdiknas) dengan melakukan beberapa
pembaharuan antara lain dengan pemberian pendidikan dan pelatihan guna
peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku-buku pelajaran, perbaikan sarana dan
prasarana, peningkatan sistem manajemen sekolah dengan MBS dan Manajemen

PTK IPS SMA


    PTK IPS SMA  

KAMI MEMBANTU ANDA MENYUSUN PTK/PTS LENGKAP, MURAH

 
  HUBUNGI KAMI DI 081222940294
 
 Untuk Melihat Detail Harga dan Katalog Judul PTK IPS Yang Kami Sediakan Silahkan klik Disini
  

ABSTRAK
Hasil belajar  siswa Kelas VIII SMP Negeri 15 Pekalongan terhadap mata pelajaran IPS selama ini masih kurang dari 60% siswa yang dapat mencapai KKM. Berdasarkan keadaan tersebut, guru melakukan upaya agar hasil belajar siswa dapat meningkat, yaitu dengan melakukan tindakan berupa penggunaan media Teka-teki Silang ( TTS ) dalam kegiatan pembelajaran, sebagai media siswa dalam mengerjakan latihan soal-soal. Tujuan penelitian ini adalah untuk  meningkatkan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran IPS yang dilakukan dengan metode Penelitian Tindakan Kelas. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan test dan non test, dengan alat pengumpul data berupa lembar tugas, lembar post test, dan lembar pengamatan baik oleh guru terhadap siswa maupun  terhadap guru oleh kolaborator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan terhadap  hasil belajar siswa Kelas VIII C setelah diadakan tindakan, bila dibandingan dengan hasil belajarnya sebelum diadaakan tindakan. Penggunaan Media Pembelajaran berupa TTS dapat meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas VIIIC SMP Negeri 15 Pekalongan. Karena melalui media TTS sebagai sarana dalam mengerjakan latihan soal-soal,  siswa akan berusaha untuk  menemukan jawaban soal-soal dalam mengisi TTS, sehungga siswa akan lebih mudah untuk memahami materi pelajaran. mereka tidak merasa bosan dalam mengikuti pelajaran dan akan lebih mudah mengingat materi yang telah dipelajari.
Kata kunci : hasil belajar, IPS, media pembelajaran, Teka-teki Silang ( TTS )
PENDAHULUAN
            Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengembangan diri, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan yang dimiliki dirinya, masyarakat, bangsa dan negara ( Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1, butir 1 ).Dalam Kurikilum 2004 yang disempurnakan juga diharapkan bahwa proses pembelajaran harus mampu menciptakan suasana yang aktif, kreatif dan menyenangkan sehingga siswa mampu mengembangkan diri sesuai dengan lingkungannya.  Namun demikian sampai saat ini dunia pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan merupakan seperangkat fakta yang harus dihafal. Guru adalah ujung tombak dalam pembelajaran untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Kelas sebagian besar masih berfokus pada guru sebagai sumber pengetahuan yang utama, dan ceramah menjadi pilihan utama dalam strategi pembelajaran.