Tampilkan postingan dengan label PTK IPS SMP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTK IPS SMP. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2016

PTK IPS SMP

PTK IPS SMP 

KAMI MEMBANTU ANDA MENYUSUN PTK/PTS LENGKAP, MURAH


 


  HUBUNGI KAMI DI 081222940294

 

 Untuk Melihat Detail Harga dan Katalog Judul PTK IPS Yang Kami Sediakan Silahkan klik Disini
BAB  I
PENDAHULUAN

  1. A.                Latar Belakang Masalah
Seorang guru yang profesional dituntut untuk memiliki berbagai  kompetensi, seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, bahwa guru sebagai penggagas perubahan di tengah masyarakat, dituntut untuk menguasai kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Oleh karena itu seorang guru harus berusaha memikul tanggung jawab besar terhadap pembelajaran khususnya kepada peserta didik demi meningkatkan pengetahuan dan hasil pengalaman belajarnya. Sebagai agen pembelajaran guru tidak hanya bertugas sebagai pengajar dan  pendidik saja, tetapi harus pula memiliki kemampuan dalam memilih metode pembelajaran  yang paling akomodatif dan kondusif  untuk siswa , sehingga siswa dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara efektif dan efisien.
Namun dalam kenyataannya guru seringkali mendapat kendala bagaimana memilih dan menggunakan metode dalam pembelajaran, metode dan strategi yang bagaimana yang  paling tepat untuk membahas satu materi pembelajaran, atau metode apakah yang paling diminati oleh sebagian besar siswa, sehingga tercipta pembelajaran yang “PAIKEM GEMBROT” yaitu pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, edukatif,
menyenangkan, gembira dan berbobot.
Penulis sebagai guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sering kali menghadapi berbagai kendala dalam menyampaikan materi pembelajaran, khususnya dalam memilih metode, apalagi mata pelajaran IPS di SMP merupakan mata pelajaran non eksakta yang disampaikan secara terpadu  terdiri dari materi Sejarah, Geografi, Sosiologi, dan Ekonomi yang dianggap materi pelajaran hapalan yang membosankan. Kekomplekan materi ini membutuhkan ekstra kerja keras agar pembelajaran tidak  membosankan.
Pembelajaran yang membosankan ini tentu akan terus berlangsung apabila para guru khususnya guru IPS hanya menggunakan metode yang konvensional saja, tidak melakukan inovasi dalam kegiatan pembelajarannya. Apalagi kenyataan yang penulis hadapi saat ini minat siswa khususnya siswa kelas 9A terhadap mata pelajaran IPS masih kurang yang menyebabkan hasil belajarnyapun kurang memuaskan yaitu sekitar 67,57 % siswa belum mencapai KKM (Kriteri Ketuntasan Minimal). Hasil belajar siswa kelas 8A ini sangat rendah dibandingkan dengan hasil belajar kelas-kelas yang lainnya dan jauh dari target pencapaian KKM yang sudah ditetapkan.
Berdasarkan pada kenyataan tersebut, penulis menganggap sangat perlu  melakukan penelitian berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan mencoba menggunakan metode pembelajaran koperatif atau Cooperative Learning yang sedang gencar disosialisasikan sebagai alternatif dan berharap dengan metode ini bisa meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu metode yang akan dicoba adalah Model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw.
Berdasarkan hal itu maka itu penulis menuliskan judul dalam Penelitian ini adalah : Penggunaan Metode Cooperative Learning Tipe Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas 8A Pada Mata Pelajaran IPS Di SMP Negeri 1 Cipeundeuy Kabupaten Bandung Barat.
Kelas yang akan dijadikan sasaran penelitian adalah kelas 9A, karena kelas ini  memiliki karakteristik yang berbeda dengan kelas yang lainnya, yaitu :

PTK IPS SMP

PTK IPS SMP   

ANDA PNS YANG MAU NAIK PANGKAT DAN MEMBUTUHKAN PTK? KAMI SIAP MEMBANTU ANDA MENYUSUN PTK/PTS LENGKAP, MURAH DAN TERPERCAYA



  HUBUNGI KAMI DI 081222940294   


ABSTRAK
Hasil belajar  siswa Kelas VIII SMP Negeri 15 Pekalongan terhadap mata pelajaran IPS selama ini masih kurang dari 60% siswa yang dapat mencapai KKM. Berdasarkan keadaan tersebut, guru melakukan upaya agar hasil belajar siswa dapat meningkat, yaitu dengan melakukan tindakan berupa penggunaan media Teka-teki Silang ( TTS ) dalam kegiatan pembelajaran, sebagai media siswa dalam mengerjakan latihan soal-soal. Tujuan penelitian ini adalah untuk  meningkatkan hasil belajar siswa pada Mata Pelajaran IPS yang dilakukan dengan metode Penelitian Tindakan Kelas. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan test dan non test, dengan alat pengumpul data berupa lembar tugas, lembar post test, dan lembar pengamatan baik oleh guru terhadap siswa maupun  terhadap guru oleh kolaborator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan terhadap  hasil belajar siswa Kelas VIII C setelah diadakan tindakan, bila dibandingan dengan hasil belajarnya sebelum diadaakan tindakan. Penggunaan Media Pembelajaran berupa TTS dapat meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas VIIIC SMP Negeri 15 Pekalongan. Karena melalui media TTS sebagai sarana dalam mengerjakan latihan soal-soal,  siswa akan berusaha untuk  menemukan jawaban soal-soal dalam mengisi TTS, sehungga siswa akan lebih mudah untuk memahami materi pelajaran. mereka tidak merasa bosan dalam mengikuti pelajaran dan akan lebih mudah mengingat materi yang telah dipelajari.
Kata kunci : hasil belajar, IPS, media pembelajaran, Teka-teki Silang ( TTS )
PENDAHULUAN
            Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengembangan diri, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan yang dimiliki dirinya, masyarakat, bangsa dan negara ( Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1, butir 1 ).Dalam Kurikilum 2004 yang disempurnakan juga diharapkan bahwa proses pembelajaran harus mampu menciptakan suasana yang aktif, kreatif dan menyenangkan sehingga siswa mampu mengembangkan diri sesuai dengan lingkungannya.  Namun demikian sampai saat ini dunia pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan merupakan seperangkat fakta yang harus dihafal. Guru adalah ujung tombak dalam pembelajaran untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Kelas sebagian besar masih berfokus pada guru sebagai sumber pengetahuan yang utama, dan ceramah menjadi pilihan utama dalam strategi pembelajaran..
Itulah kenyataan yang dihadapi oleh sebagian besar guru IPS. Materi pelajarannya yang kompleks, sering dianggap sebagai pelajaran yang mudah tapi susah, bersifat hafalan dan membosankan, sehingga menyebabkan rendahnya perhatian dan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Rendahnya perhatian siswa pada mata pelajaran IPS, ditambah dengan strategi pembelajaran yang kurang menarik menyebabkan rendahnya prestasi siswa.                
Kondisi yang demikian terjadi pula di  SMP Negeri 15 Pekalongan. Hasil belajar siswa kelas VIII terhadap mata pelajaran IPS selama ini masih rendah karena nilai  ulangan mereka tidak sampai  60% yang bisa mencapai nilai KKM.  Sementara kegiatan pengajaran dikatakan berhasil apabila 85% siswa dikelas itu dapat mencapai KKM. Hal itu menandakan bahwa pembelajaran IPS kurang menarik, karena guru masih menggunakan menggunakan model pembelajaran yang kurang merangsang siswa untuk belajar lebih giat, dan proses pembelajaran masih menekankan pada aspek pengetahuan saja, belum menyentuh pada sikap dan kreatifitas siswa, karena guru kurang melibatkan siswa agar aktif dalam proses pembelajaran.
   Rendahnya hasil belajar IPS pada siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Pekalongan dapat dilihat dari rendahnya nilai ulangan siswa untuk mata pelajaran IPS. Hasil ulangan harian siswa sebelum diadakan tindakan hanya 46% siswa yang dapat mencapai  KKM, atau siswa yang memiliki nilai diatas 60  masih jauh dari 85%, sehingga dapat dikatakan bahwa kegiatan pembelajaran  tidak tuntas.  Kegiatan ulangan remidialpun seringkali tidak dapat membantu memperbaiki dan menaikkan nilai mereka.
Selama ini dalam kegiatan pembelajaran guru masih menggunakan metode ceramah yang diterapkan secara murni, sehingga siswa merasa tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran. Siswa seolah-olah hanya diharuskan untuk menghafal fakta-fakta, sehingga siswa merasa bosan dan kurang berminat terhadap kegiatan pembelajaran. Keadaan yang demikian ternyata menjadi salah satu fakta yang berpengaruh terhadap rendahnya hasil belajar siswa.
Pada ulangan harian pertama  (semester 2 ) sebelum diadakan siklus, siswa yang tuntas ( mencapai KKM ) atau memiliki nilai 60 keatas sebanyak 20 orang atau sebesar 55,6  %. Siswa yang tidak tuntas atau dengan nilai kurang dari 60 sebanyak 16 orang atau sebesar 44,4 %, dengan nilai rata-rata kelas 55,8.
            Dari gambaran keadaan diatas dapat disimpulkan bahwa  ketuntasan belajar kelas VIII C secara klasikal belum tuntas, karena baru mencapai 55,6% atau kurang dari 85 % siswa yang tuntas atau mendapatkan nilai minimal 60, nilai yang diperoleh siswapun masih berada pada nilai dengan tingkat sedang. Kondisi yang demikian mendorong peneliti untuk mengadakan inovasi dalam kegiatan pembelajaran dengan  mencoba melaksanakan kegiatan pembelajaran melalui penggunaan media yang diharapkan dapat menjadi strategi untuk menarik minat siswa dalam belajar.
Penyebab mengapa prestasi belajar siswa rendah pada setiap ulangan harian dapat diduga antara lain karena siswa kurang memahami konsep pengajaran IPS. Siswa kurang termotivasi menyelesaikan tugas rumah ( PR ), minat baca siswa rendah, dan tidak mau bertanya pada saat proses pembelajaran. Guru masih menggunakan metode ceramah sehingga kurang melibatkan siswa untuk aktif dalam pelajaran, Akibatnya materi pelajaran menjadi kurang menarik.
Dari berbagai permasalahan di atas , ada satu masalah utama yang perlu mendapat perhatian, yaitu meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPS. Upaya yang diperkirakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPS ialah dengan menggunakan media pembelajaran berupa Teka-Teki Silang ( TTS ). Menurut Soeparno, 1988 ), dalam proses pembelajaran siswa akan lebih mudah mencerna isi materi pelajaran bila digunakan alat bantu atau media, baik berupa media cetak ( buku, modul, brosur, atau sejenisnya ) atau media non cetak yang berupa media elektronik ( audio, videi, film, dsb. ). Teka-Teki Silang (Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas ) adalah suatu permainan dimana kita harus mengisi ruang-ruang kosong berbentuk kotak putih dengan huruf-huruf yang membentuk sebuah kata berdasarkan petunjuk yang diberikan. Petunjuknya bisa dibagi kedalam kategori pertanyaan mendatar atau menurun, tergantung pada arah kata-kata yang harus diisi. Pemilihan media Teka-Teki Silang  cocok untuk diterapkan pada materi IPS  kelas VIII semester 2, karena materi-materi tersebut lingkupnya luas dan bersifat hafalan sehingga tidak efektif bila dilakukan pembelajaran dengan metode ceramah ataupun diskusi
Dengan menggunakan media ini diharapkan akan dapat menumbuhkan perhatian siswa terhadap mata pelajaran IPS, karena siswa akan aktif mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang harus diselesaikan. Partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran akan dapat meningkatkan hasil belajarnya. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini  adalah meningkatkan hasil belajar IPS melalui penggunaan Media Pembelajaran Teka-Teki Silang pada siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Pekalongan

PTK IPS SMP

PTK IPS SMP  

ANDA PNS YANG MAU NAIK PANGKAT DAN MEMBUTUHKAN PTK? KAMI SIAP MEMBANTU ANDA MENYUSUN PTK/PTS LENGKAP, MURAH DAN TERPERCAYA



  HUBUNGI KAMI DI 08122294029   


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran IPS merupakan salah satu mata pelajaran dalam kurikulum pendidikan yang diajarkan mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. IPS memuat tentang ilmu ilmu sosial yang pada hakekatnya menganjarkan anak didik agar memiliki rasa sosial tinggi dalam kehidupannya. Melalui pembelajaran IPS diharapkan siswa dapat mengetahui keragaman bangsanya, keragaman budayanya, sejarah bangsanya serta keadaan alamnya. Pembelajaran IPS dirancang untuk membimbing dan merefleksikan kemampuan siswa dalam kehidupan bermasyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang terus menerus. Hal ini merupakan tantangan yang sangat berat mengingat masyarakat secara global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu diperlukan suatu pengetahuan yang dapat menunjang pengembangan kreatifitas guru dalam mengajar. Pengembangan kreatifitas dan kemampuan guru ditujukan untuk menghindari permasalahan yang muncul dari diri siswa selama mengikuti pembelajaran IPS, karena melalui pembelajaran IPS ini diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuan dan sikap yang rasional tentang gejala- gejala sosial serta perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia, baik di masa lampau dan masa kini maupun masa yang akan datang.
Dalam pembelajaran IPS guru harus dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh antusias bagi siswa. Dalam kegiatan pembelajaran IPS yang menyenangkan guru harus didukung oleh alat belajar yang menarik minat belajar sehingga siswa tidak merasa bosan selama mengikuti pembelajaran, sebagaimana dikemukakan oleh Samlawi Fakih (1992) bahwa mata pelajaran IPS adalah mata pelajaran yang membosankan, oleh karena itu diperlukan media yang dapat menarik minat siswa untuk belajar.
Menyinggung tentang media pembelajaran kita harus menggunakan media pembelajaran tersebut dengan benar dan tepat untuk menunjang proses belajar mengajar yang dilaksanakan, dalam hal ini media yang tepat dapat merangsang siswa untuk lebih mengerti dan memahami materi yang diajarkan. Menurut Gagne (dalam Amidun Rasyad dan Darhim, 1996 – 1997:97) “media adalah jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar“. Belajar bukan saja melulu penerapan teori semata dan pembelajaran di ruang kelas, tetapi lebih dari itu belajar merupakan cara yang kompleks untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebuah bangsa. Oleh sebab itu, ketepatan memilih media pembelajaran merupakan faktor pendukung dalam sukses tidaknya guru mendidik murid menjadi generasi yang dapat diandalkan dan dibanggakan kelak. Oleh karena itu guru harus menggunakan media pembelajaran yang tidak saja membuat porses pembelajaran menjadi menarik, tetapi juga memberikan ruang bagi murid untuk berkreasi dan terlibat secara aktif sepanjang proses pembelajaran. Sehingga aspek kognitif ,afektif dan psikomotorik murid pun dapat berkembang maksimal secara bersamaan tanpa mengalami pendistorsian salah satunya. Kenyataan apa yang menjadi harapan dan tujuan di atas belum sepenuhnya terpenuhi. Namun usaha ke arah itu senantiasa dilakukan oleh seluruh elemen pendidikan Hal ini menunjukkan bahwa dengan penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran akan menarik minat belajar siswa terutama pada mata pelajaran IPS.
Dengan media yang menarik materi pelajaran akan mudah diserap oleh siswa, karena dengan menggunakan media dapat mempermudah pemahaman belajar anak dalam pencapaian tujuan pengajaran. Berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri 1 Bayan, pembelajaran IPS belum sesuai diharapkan. Hal ini disebabkan oleh: 1). Kurangnya keterampilan guru dalam memilih media yang tepat dalam pembelajaran, 2). Kurangnya keterampilan guru untuk memanfaatkan media.
3). Minat belajar siswa kurang atau belum sesuai dengan apa yang diharapkan.
Untuk itu diperlukan alat atau media yang dapat menarik minat siswa.
Materi tentang tindakan ekonomi dan motif ekonomi adalah salah satu materi pada pelajaran IPS kelas VII semester 1, tetapi ternyata guru dalam melaksanakan pembelajaran kebanyakan masih bersifat konvensional, artinya guru masih mendominasi jalannya pembelajaran dan belum memanfaatkan media pembelajaran secara maksimal sehingga pembelajaran yang dilakukan cenderung kurang menarik siswa. Selain itu guru belum sepenuhnya memanfaatkan alat peraga dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Kebanyakan masih menggunakan alat peraga lembar kerja yang dibeli dari penerbit yang belum sesuai dengan kebutuhan siswa.. Untuk mengatasi hal itu perlu diadakan uji coba menggunakan media pembelajaran yang murah dan sederhana yang mudah dipahami siswa yaitu melalui media visual
Media pembelajaran yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah media yang digunakan untuk menunjang proses belajar mengajar khususnya pada mata pelajaran IPS terutama pada materi tentang tindakan ekonomi dan motif ekonomi. Adapun media tersebut adalah media visual. Harapan selanjutnya adalah ingin memperbaiki proses pembelajaran dengan memanfaatkan penggunaan alat peraga dan media visual yang murah meriah, mudah didapat . Diharapkan dengan menggunakan media visual lebih mewarnai proses pembelajaran agar pembelajaran lebih bermakna, materi mudah dipamai siswa, bergairah serta bernuansa PAKEM (Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Disisi lain siswa pun akhirnya akan lebih akrab dan lebih berminat belajar IPS. Dan prestasi belajar siswa meningkat. Berdasarkan uraian di atas maka penulis melaksanakan penelitian tindakan kelas mengenai ”Meningkatkan Minat Belajar Siswa Melalui Media Visual pada Materi Tindakan Ekonomi dan Motif Ekonomi Mata Pelajaran IPS Kelas VII.2 SMP Negeri 1 Bayan Kabupaten Lombok Utara”.